.

.
News Update :

Rotan dan sarung

Saturday, December 20, 2014

                Saat kecil aku diajarkan orangtuaku untuk melakukan ibadah sholat. Dan sebagai anak kecil yang  belum mengenal kata ‘menolak’, aku mengikuti apa yang diajarkan orangtuaku. Seingatku saat itu aku berusia lima tahun. Saat adzan, ibuku menyuruh untuk melakukan sholat. Belum paham secara pasti apa arti sholat, aku melakukannya saat adzan berkumandang. Sarung yang aku kenakan pada saat itu hanya satu dan itupun sudah kumal. Karena kondisi ekonomi  waktu itu masih berstatus sederhana, saat itu tidak menjadi masalah. Orangtua selalu memberi janji jika saat tujuh tahun aku belum sholat, aku akan dipukul menggunakan rotan sebanyak rakaat yang aku tinggalkan. Ada perasaan takut yang setiap saat menlingkupi masa kecilku. Meski saat itu aku belum paham betul rotan itu bentuknya seperti apa, orangtuaku menjelaskan rotan itu seperti pemukul kasur yang digunakan untuk membersihkan debu saat dijemur. Bagiku dipukul tangan saja sudah sakit apalagi menggunakan rotan.
Aku berusia tujuh tahun dan sholatku mulai tertib. Walaupun orangtuaku selalu bilang sholatku ‘ngglodhek’. Artinya sholatku sangat cepat dan memang seperti itu kenyataannya. Namun, karena pengajaran yang diajarkan selama dua tahun begitu melekat, aku memberanikan diri untuk minta dibelikan rotan. Dan saat itu, aku sudah rela jika dipukul. Ibu baru saja pulang dari kerja. Aku berlari ke arahnya dan menyuruhku melihat apa yang tergantung di sepeda motor. Mungkin bakso, pikirku. Namun, ibuku juga bilang ‘Jangan lupa sholat’. Atau rotan? Aku tidak peduli dan langsung berlari melihatnya. Namun, ternyata itu adalah sebuah kain sarung yang selama ini aku inginkan. Aku merasa senang sekali saat itu dan semangat untuk ibadah.

Dan saat dewasa, kini aku melihat betapa banyak cara yang digunakan orangtuaku untuk mendidikku. Terutama dalam hal ibadah. Rotan dan sarung adalah dua simbol yang digunakan untuk menjadikanku anak yang taat beragama. Sebuah rasa syukur yang sangat menyejukkan hati ketika aku merasakannya sebagai nikmat. Terima kasih. Bapak. Ibu.
Share this Article on :

0 comments:

Post a Comment

 

© Copyright Muhamad Zamzam Istimaqom 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.