Saat itu
perjalanan pulang dari acara Musyawarah Nasional sebuah Organisasi Pelajar SMA.
kereta. Saat itu ada 3 kirsi. Aku duduk di dekat jendela, temanku di tengah,
dan orang itu duduk di samping kiri temanku. Firasatku mulai buruk. Saat itu
jam menunjukkan pukul 10 malam dan pikiranku terbawa oleh pengaruh film
layaknya akan terjadi suatu kejahatan. Ia menawari rokok kepada kami namun kami
menolaknya.
Temanku
justru berani memulai pembicaraan dengan orang di samping kiri itu. Lalu mereka
asyik bercerita mengenai kehidupannya. Lagi-lagi aku salah. Orang itu ternyata
adalah seorang yang lepas dari keluarga broken home. Ayah dan ibunya lepas dari
kehidupan satu atap. Ia menceritakan kehidupannya yang membuat hati ini
bergetar karena salah menduganya. Lagi-lagi penampilan memang menipu. Temanku
dengan tenang menanggapinya dengan hati yang besar. Dan tanpa sepengatuhanku,
ternyata temanku juga berasal dari keluarga broken home pula. Mereka banyak
memilki kesamaan, bahkan pembicaraan mengarah ke hobi yang sama-sama suka
bermain musik.
“Kamu
turun dimana?” ia bertanya kepada kami.
“Jogja
mas, kita habis dari Musyawarah Nasional”
“Wah
aku enggak tahu lah urusan kayak gitu. Aku dulu Cuma lulusan SMK dan sekarang
aja kerja di sawit, kalian udah kuliah apa gimana?” tanyanya bersahabat.
“Belum
mas, kita masih SMA kok. Ini acara
pelajar” jawabku menjelaskan.
“Ah
orang-orang pendiam dan ganteng kayak kalian pasti ceweknya cantik. Hahaha,”
candanya “Enggak mas, kita enggak pacaran.
Hehehe,” jawab temanku.
Kemudian
pembicaraan berlanjut dengan menyenangkan dan orang itu turun di stasiun blora
sedangkan aku masih di kereta selama empat jam setelah itu.
Begitu
banyak orang di sekitar kita dan banyak
pula sangkaan kita terhadap karakter mereka karena penampilannya. Namun, yang
sebenarnya terjadi adalah kebenaran dan kebesaran hati yang sebenarnya. Sejak
saat itu aku sadar, bahwa nilai kebenaran itu memang kebenaran itu sendiri.
Bukan dari prasangka kita. Dan bukan pula dari sekedar penampilan.


0 comments:
Post a Comment